Mungkinkah Manusia Melihat Jin ??

Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman :

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al-Hijr : 26-27)

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat : "Sujudlah kamu kepada Adam, kecuali iblis, ia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu ? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim." (QS. Al-Kahfi : 50)

Saudaraku.. Tidak diragukan lagi bahwa makhluk semisal jin, setan, maupun malaikat, adalah makhluk yang hidup di alam ghaib, beda dengan kita manusia..

Namun demiian, ternyata, bahwa makhluk dari alam ghaib tsb bisa menampakkan diri kepada manusia dengan bermacam-macam bentuk, hal ini adalah fakta yang dapat didengar dan disaksikan, meskipun bukan dalam bentuk aslinya. Ini adalah suatu kemungkinan yang tidak bertentangan dengan akal begitu pun dengan dalil naqli (Al-Qur'an & As Sunnah).

Sifat jin yang gaib, tidak menghilangkan kemungkinan penampakkan jin di alam manusia, meskipun (sekali lagi) bukan dalam bentuk yang sesungguhnya. Malaikat Jibril 'alayhis salam yang termasuk makhluk gaib, juga pernah menampakkan diri dalam rupa manusia, sebagaimana hadits yang disepakati keshahihannya, saat Jibril yang menapakkan diri sebagai seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam tentang Islam, Iman, Ihsan dan hari kiamat. Usai pergi, Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bertanya :

"Tahukah kalian, siapakah yang datang tadi ?"

Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

Lalu Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

"Sesungguhnya ia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajari perihal agama kalian."

[HR. Bukhari & Muslim]

Begitulah, Jibril 'alayhis salam pernah menampakkan diri dengan wujud yang bukan sesungguhnya, dan disaksikan oleh banyak sahabat..

Dan di antara dalil yang menunjukkan bahwa jin dapat muncul dalam bentuk bermacam-macam adalah :

Ada jin di Madinah yang menampakkan diri dalam bentuk ular. Imam Muslim meriwayatkan hadits yang bersumber dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, belaiau berkata :

"Ada seorang pemuda di antara kami yang baru saja menikah, lalu kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam menuju Khandaq. Pemuda tersebut meminta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam di pertengahan hari untuk pulang kepada keluarganya dan Nabi mengizinkannya. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

"Ambillah senjatamu karena aku khawatir engkau akan dibunuh orang Quraidhah,"

Maka pemuda itu mengambil senjatanya dan kembali ke rumah. Sampai di rumahnya ia melihat istrinya sedang berdiri di bibir pintu, didorong rasa cemburunya, hampir saja ia memukulnya dengan tombaknya. Maka istrinya berkata, "Tahanlah tombakmu dariku dan masuklah ke dalam rumah sehingga kamu tahu apa yang mendorongku hendak keluar."

Lalu pemuda itu pun masuk dan ternyata di dalamnya ada ular besar melingkar di atas ranjang. Maka pemuda itu langsung menyerangnya dengan tombak dan menusuknya. Setelah itu dia keluar, dan menyandarkan tombaknya di dalam rumah. Tiba-tiba ular itu menyerangnya. Maka tidak diketahui mana yang lebih dahulu mati, apakah pemuda tersebut ataukah ular."

Abu Sa'id melanjutkan, "Kemudian kami mendatangi Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam dan kami menceritakan kejadian itu, kami juga berkata, "Berdoalah kepada Allah agar menghidupkannya untuk kami."

Tapi Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

"Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian."

Lalu Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

"Sesungguhnya di Madinah ada jin-jin yang masuk Islam. Maka apabila kalian melihat gelagat mereka (ular di rumah kalian), tangguhkanlah selama tiga hari, jika setelah itu dia masih tampak atas kalian, maka bunuhlah ia, karena ia adalah syetan (jin jahat atau jin pembangkang)."

[HR. Muslim]


Setan juga pernah menampakkan diri dalam bentuk manusia mencuri kurma sedekah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tatkala menjaga zakat kemudian datang jin untuk mencurinya lalu ditangkap oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, lalu dilepaskan kembali karena beliau merasa iba. Namun lain hari dia kembali lagi dan tertangkap lagi, begitu terulang hingga tiga kali. Untuk ketiga kalinya Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bertekad untuk membawanya ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam, hanya saja ia beralasan karena terdesak oleh keluarga, dia terpaksa dan meminta Abu Hurairah agar mau memaafkannya dengan imbalan dia akan memberitahukan satu ayat dari Kitabullah yang apabila seseorang membacanya niscaya ia tidak akan didekati oleh syetan. Syetan itu berkata, "Jika kamu menuju tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi hingga akhir ayat, karena kamu selalu dalam penjagaan Allah dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi."

Ketika Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bertemu Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam, Nabi segera bertanya, "Apa yang telah kau lakukan terhadap tawananmu kemarin malam ?"

Abu Hurairah menjawab, "Dia itu begini dan begini."

Maka Nabi bersabda :

"Dia jujur kepadamu padahal dia itu pendusta. Kamu tahu siapa yang kamu ajak bicara sejak tiga malam ini, wahai Abu Hurairah ?" Beliau (Abu Hurairah) menjawab, "Tidak."

Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

"Dia adalah syetan."

[HR. Bukhari]


Iblis juga pernah datang ke Darun Nadwah di Mekkah ketika para pembesar Qurasy tengah bermusyawarah tentang tindakan yang hendak diambil menghadapi Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam beserta dakwahnya yang kian berkembang di tengah mereka. Mereka menjadi bingung. Mereka berkumpul untuk membahas persoalan tersebut. Ketika itu datanglah syetan dalam wujud orang tua (manusia) dari Najed yang ditokohkan kaumnya, dia turut bermusyawarah yang menghasilkan suara terbanyak berupa keputusan yang paling keji, paling jahat dan besar kerusakannya, yakni hendak membunuh Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam." (Al-Bidayah wa An-Nihayah III/175-176, Sirah Ibnu Hisyam II/103-105)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengabarkan :

“Sesungguhnya Ifrit [Ifrit adalah kalangan jin yang sombong, membangkang, durhaka, lalim lagi jahat (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 5/32)] dari bangsa jin semalam mendatangiku dengan tiba-tiba (atau melompat di hadapanku) –atau Nabi mengucapkan kalimat yang semisal ini– untuk memutus shalatku. Maka Allah menjadikan aku dapat menguasainya. Semula aku ingin mengikatnya pada salah satu tiang masjid, sehingga di pagi hari kalian semua BISA melihatnya. Namun aku teringat ucapan saudaraku Sulaiman, ia pernah berdoa: “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan (kekuasaan) yang tidak pantas didapatkan oleh seorang pun setelahku.”

Rauh (perawi hadits ini) berkata : “Nabi pun mengusirnya dengan hina.”

[HR. Al-Bukhari no. 461, 1210, 3284, 3423, 4808 dan Muslim no. 1209 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu]

Abu Ad-Darda` radhiallahu ‘anhu pernah pula mengabarkan : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk mengerjakan shalat. Kami mendengar beliau berkata :

“Aku berlindung kepada Allah darimu.” Kemudian berkata tiga kali : “Aku melaknatmu dengan laknat Allah.” Beliau membentangkan tangannya seakan-akan menangkap sesuatu. Ketika beliau selesai shalat, kami bertanya : “Wahai Rasulullah, kami tadi mendengarmu mengucapkan sesuatu di dalam shalat yang sebelumnya kami belum pernah mendengar engkau mengucapkannya dan kami melihatmu membentangkan tanganmu.” Beliau menjawab keheranan para sahabatnya dengan menyatakan :“Sesungguhnya musuh Allah, Iblis, datang dengan bola api yang hendak dia letakkan pada wajahku. Aku katakan : “Aku berlindung kepada Allah darimu”, tiga kali. Kemudian aku berkata : “Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna yang pantas untuk engkau dapatkan”, tiga kali. Lalu aku ingin menangkapnya. Demi Allah, seandainya bukan karena doa saudara kami Sulaiman niscaya ia menjumpai pagi hari dalam keadaan terikat hingga DAPAT dipermainkan oleh anak-anak Madinah.”

[HR. Muslim no. 1211]

Menggabungkan dua hadits di atas dengan kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang dapat menangkap setan ketika setan mencuri makanan zakat yang dijaga Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau ingin membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mungkin dianggap rumit. Maka jawaban atas kerumitan ini dipaparkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu sebagai berikut :

“Dimungkinkan setan yang ingin diikat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah tokoh/ pimpinan para setan, sehingga bila berhasil menguasainya berarti dapat menguasai setan yang lainnya. Bila seperti ini, dapat menyamai apa yang diperoleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berupa penundukan para setan untuk memenuhi keinginannya dan mengambil perjanjian dari mereka. Sementara yang dimaksud dengan setan dalam kisah Abu Hurairah bisa jadi setan yang merupakan qarin Abu Hurairah, atau setan lainnya, yang bukan tokoh/ pimpinannya. Atau bisa jadi setan yang ingin diikat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tampak di hadapan beliau dengan sifat aslinya sesuai dengan penciptaannya, seperti halnya setan-setan yang berkhidmat/ mengabdi pada Sulaiman ‘alaihissalam berada dalam bentuk aslinya. Adapun setan yang dilihat Abu Hurairah berada dalam wujud manusia, sehingga memungkinkan bagi Abu Hurairah untuk menangkapnya, dan tidak ada unsur penyerupaan dengan kerajaan Sulaiman. (Fathul Bari, 9/ 71-72)

Riwayat-riwayat di atas tidaklah bertentangan dengan firman Allah Ta'ala :

"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syetan-syetan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al-A'raf)

Manusia memang tidak bisa melihat jin dalam wujud yang sebenarnya. Tapi, saat jin melakukan penyerupaan dan menampakkan diri dalam wujud lain, ada kemungkinan manusia bisa melihatnya..

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, syarah Shahih Bukhari mendudukkan pernyataan Imam Asy-Syafi'i yang berkata :

"Barang siapa yang mengklaim bisa melihat jin, maka kami menolak kesaksiannya, kecuali jika ia seorang Nabi."

Beliau (Ibnu Hajar) mengatakan :

"Pernyataan beliau ini mengandung pengertian, bahwa yang tertolak kesaksiannya adalah orang yang mengkalim bisa melihat jin-jin dalam wujud aslinya sebagaimana mereka diciptakan, adapun orang yang mengaku bahwa ia melihat sebagian jin setelah menyerupakan diri dengan beragam bentuk seperti hewan, maka ini bukanlah suatu cela. Karena telah banyak riwayat-riwayat tentang penampakkan jin dalam berbagai bentuk..

Wallahu A'lam


[Disunting secara bebas dari tulisan Abu Hasna]

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar